Halalkah Jual-Beli Forex?

Jual-beli forex (foreign exchange) adalah transaksi jual-beli yang melibatkan pertukaran 2 mata uang yang berbeda. Misalkan, kamu membeli 10000 Yen dengan rupiah. Transaksi komersial yang melibatkan pertukaran antara uang dengan uang seperti ini di dalam Islam di sebut ba’i al sarf. Dalam syariat Islam, Ba’i al sarf memiliki beberapa syarat ketat yang wajib dipenuhi agar dapat dianggap halal. Tapi sebelum kita masuk ke teori, mari kita membahas kasus-kasus jual beli mata uang yang diharamkan oleh Islam.

Kasus yang sering kita temui ketika menjelang liburan adalah maraknya praktik jual-beli (menukar) uang besar dengan uang receh dengan harga. Misalnya, menukar 100 ribu rupiah dengan 5 lembar 20 ribu rupiah ditambah harga jasa sebesar 10 ribu. Artinya kita menukar 100 ribu rupiah dengan 90 ribu (20 x 5 - 10) rupiah, transaksi ini haram.

Atau ketika di pasar kamu ingin melakukan suatu pembayaran senilai 60 ribu dengan uang 100 ribu, namun si penjual tidak memiliki uang kembalian yang cukup. Maka kamu mencari penjual lainnya untuk memecah uang yang kamu memiliki. Salah satu penjual mau menukarkan uangmu namun dia hanya memiliki pecahan senilai 92 ribu rupiah. Karena buru-buru, kamu pun menyetujuinya dan menukar 100 ribu yang kamu miliki dengan pecahan 92 ribu. Transaksi ini hukumnya adalah haram.

Kasus lainnya, kamu membeli emas secara online dimana si penjual meminta kamu untuk mentransfer uang pembayaran (baik itu ke rekening penjual ataupun ke rekening escrow) sebelum dia mengirimkan emas tersebut. Transaksi jual-beli ini juga haram.

Sama nilainya

Kasus nomor 1 dan 2 diharamkan dalam Islam karena melanggar peraturan pertama dalam jual-beli mata uang (ba’i al sarf), yaitu nilai pertukaran haruslah sama/seimbang untuk mata uang yang sejenis. Uang yang digunakan dalam jual-beli dan pembayaran lainnya sejatinya tidak memiliki nilai intrinsik. Uang 50 ribu rupiah sesungguhnya tidak memiliki nilai produksi dan nilai jual sebesar 50 ribu karena hanya merupakan secarik kertas yang dicetak dengan proses yang canggih. Untuk itu, haram bagi seseorang menukar uang 50 ribu rupiah dengan 49 ribu, 51 ribu, atau berapa pun kecuali dengan 50 ribu rupiah. Dalil yang menjadi dasar dari syarat ini adalah hadist Rasulullah SAW berikut ini:

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، وَيَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، قَالاَ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَاصِمٍ، قَالَ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ، قَالَ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، عَنْ أَبِي الْخَلِيلِ، عَنْ مُسْلِمٍ الْمَكِّيِّ، عَنْ أَبِي الأَشْعَثِ الصَّنْعَانِيِّ، عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏”‏ الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ تِبْرُهُ وَعَيْنُهُ وَزْنًا بِوَزْنٍ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ تِبْرُهُ وَعَيْنُهُ وَزْنًا بِوَزْنٍ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ سَوَاءً بِسَوَاءٍ مِثْلاً بِمِثْلٍ فَمَنْ زَادَ أَوِ ازْدَادَ فَقَدْ أَرْبَى ‏”‏ ‏.‏ وَاللَّفْظُ لِمُحَمَّدٍ لَمْ يَذْكُرْ يَعْقُوبُ ‏”‏ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ ‏”‏ ‏.‏

“The messenger of Allah said: ‘Gold for gold, of equal measure; silver for silver, of equal measure; salt for salt, dates for dates, wheat for wheat, barley for barley, like for like. Whoever gives more or takes more has engaged in Riba.”’ HR. ‘Ubadah bin As-Samit (Sahih)

– Sunan an-Nasa’i Vol. 5, Book 44, Hadith 4568 (English Version)

Terjadi secara simultan

Kasus nomor 3 tidak melanggar peraturan pertama jual-beli mata uang karena pertukaran dilakukan atas dua jenis mata uang yang berbeda, yaitu rupiah dengan emas, sehingga perbedaan nilai boleh terjadi. Tapi kasus ini melanggar syarat yang tak kalah pentingnya, yaitu baik serah terima dan pembayaran harus terjadi secara simultan dan langsung. Ketika kamu telah mentransfer uang pembayaran untuk emas yang ingin kamu beli, maka transaksi jual-beli secara resmi terjadi tetapi emas baru akan kamu terima beberapa jam atau beberapa hari kemudian karena adanya proses pengiriman. Apabila pembayaran rupiah dan serah terima emas dilakukan secara langsung (cash on delivery), maka transaksi ini baru bisa jadi halal.

Perlu digarisbawahi bahwa proses pertukaran, serah terima dan pembayaran, harus dilakukan secara tunai dan utuh, dimana tidak boleh ada hutang atau pengangsuran sama sekali yang dilakukan oleh salah satu pihak, terlebih lagi keduanya. Untuk kasus nomor 3, ketika dalam proses cash on delivery, kamu harus membayar secara tunai seluruh harga emas tersebut dan si penjual pun harus menyerahkan semua emas yang dibayar oleh si pembeli pada saat itu juga.

Serah Terima

Kita sekarang mengetahui bahwa serah terima adalah salah satu aspek kunci dari halal atau tidaknya suatu transaksi ba’i al sarf. Konsep serah terima (qabdh) dalam syariat Islam adalah sesuatu yang dinamis karena para ulama fiqih juga mempertimbangkan dampak dari kemajuan teknologi terhadap cara-cara serah terima dapat terjadi dan hukumnya. AAOIFI dalam Shari’a Standard (2010) telah merumuskan peraturan serah terima dalam transaksi jual-beli uang sebagai berikut:

  1. Serah terima dapat dilakukan secara fisik atau konstruktif.
  2. Serah terima secara fisik dapat dilakukan dengan pertemuan langsung yang diikuti dengan penyerahan secara tunai. Si penjual dan pembeli berpisah dengan membawa hasil pertukaran tanpa adanya hutang yang terjadi.
  3. Serah terima secara konstruktif dilakukan tanpa adanya serah terima secara fisik, TETAPI baik si pembeli dan penjual tetap mendapatkan hasil pertukaran secara langsung dan tunai dengan cara-cara seperti mentransfer atau mendeposit ke rekening, menerbitkan cek atau voucher. Intinya, semua pihak wajib mendapatkan manfaat utuh dari pertukaran secepatnya. Jeda yang dibolehkan dalam serah terima jenis ini adalah jeda yang secara praktik tidak dapat terhindarkan, seperti ketika menunggu dana yang ditransfer sampai ke rekening tujuan.

Semoga setelah membaca pembahasan ini, kamu sudah memahami syarat-syarat apa saja yang harus dipenuhi agar transaksi yang melibatkan pertukaran mata uang halal menurut syariat Islam.

Galih Muhammad

Galih Muhammad

Software developer di HarukaEdu yang mempelajari ilmu muamalah setelah menempuh kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Komentar:




Sampaikan saran, kritik, atau pertanyaan