Haramkah Menabung di Bank Konvensional dan Syariah?

Menabung adalah kebiasaan yang selalu diajarkan sejak kita masih di bangku SD. Ketika sudah beranjak dewasa, kita pun mulai membuka rekening tabungan di bank, tanpa memikirkan halal atau haramnya menabung di bank. Mengenai muamalah, semua perbuatan yang tidak ada larangannya dalam Al-Qur’an dan hadist shahih adalah diperbolehkan. Lalu adakah larangan atas menabung di bank?

Menabung di bank konvensional

Mari kita tinjau dari sisi akad/kontrak yang digunakan. Ketika kita menabung di bank konvensional, akad yang PASTI digunakan adalah (pinjaman) qardh, karena pinjam-meminjam adalah pilar dari keuangan konvensional. Pada dasarnya ketika kita menabung di bank, kita meminjamkan uang ke bank dengan syarat: 1) kita dapat menagih/menarik uang kita kapan saja dan 2) kita mendapat imbalan berupa persenan yang disebut dengan ‘bunga’.

Sebagai pengingat, pinjam-meminjam di dalam Islam adalah praktik murni sosial yang mana si pemberi pinjaman tidak boleh mendapatkan imbalan dari si peminjam. Artinya, dengan menabung di bank konvensional kita telah terlibat dalam praktik pinjam-meminjam yang di dalamnya ada keuntungan yang bersifat haram, yang disebut dengan riba.

Menabung di bank syariah

Kalau menabung di bank konvensional itu haram, apakah menabung di bank syariah itu halal? Jawabannya adalah tergantung dari penerapan akadnya. Memang betul bahwa menabung di bank syariah tidak melibatkan akad pinjaman, melainkan menggunakan akad Mudharabah atau Wadi’ah. Tapi bila terdapat poin-poin di kontrak tersebut yang tidak sesuai dengan rambu-rambu yang berlaku untuk jenis kontrak tersebut, maka tetap saja haram. Lalu apa rambu-rambu yang perlu kita perhatikan dari akad Mudharabah dan Wadiah ketika akan menabung?

Mudharabah Musytarakah

Mudharabah adalah salah satu akad bagi hasil, dimana salah satu pihak murni berperan sebagai pemberi dana dan pihak yang lain berperan sebagai pengelola dana. Dalam sistem bagi hasil, kerugian dan keuntungan ditanggung bersama, sesuai dengan proporsi yang telah disetujui sebelumnya. Haram hukumnya suatu akad bagi hasil dimana kerugian hanya ditanggung oleh salah satu pihak. Bila ada salah satu pihak yang dipastikan tetap mendapatkan sejumlah nominal uang, tidak peduli apakah usaha bersama yang dilakukan membuahkan keuntungan atau tidak, maka sejatinya ini adalah akad pinjaman yang hanya dilabeli sebagai bagi hasil. Dan lagi-lagi, keuntungan atau imbalan yang didapatkan dari akad pinjaman adalah riba.

Nah dalam akad mudharabah yang ditawarkan sebagai produk tabungan oleh SEMUA bank syariah pada saat ini, menjamin bahwa kamu sebagai pemilik tabungan (dan pemberi dana) akan selalu mendapatkan tambahan/keuntungan atas dana yang kamu berikan dalam bentuk tabungan. Nisbah bagi hasil mungkin akan naik dan turun, namun kamu TIDAK akan pernah mengalami kerugian dan saldo tabunganmu tidak akan berkurang (kecuali kamu menarik uang dari rekeningmu, tentunya).

Sudah jelas sekarang bahwa dalam praktik nyatanya, akad mudharabah yang digunakan pada transaksi menabung di bank syariah hanyalah akad pinjaman berbunga yang dilabeli dengan bahasa arab. Sebaiknya kamu menghindari menabung dengan akad mudharabah di bank syariah saat ini.

Wadi’ah

Wadiah adalah akad yang mengatur penitipan sesuatu dari satu pihak ke pihak lainnya, dalam kasus ini kamu berarti menitipkan uangmu kepada bank. Penting untuk diketahui bahwa wadi’ah adalah akad sosial, sama seperti qardh (pinjaman), sehingga tidak diperbolehkan untuk digunakan dalam transaksi komersial (mencari keuntungan).Yap, dengan wadi’ah tabungan kamu (seharusnya) tidak akan mendapatkan tambahan dari bank, namun kamu akan terhindar dari mendapatkan riba.

Perlu diketahui bahwa sebagian besar bank masih ‘nakal’ dalam penerapan akad wadi’ah, dimana mereka tetap memberikan nisbah bagi hasil kepada tabunganmu, sehingga melanggar rambu akad wadi’ah dan membuatnya sama persis dengan akad mudharabah yang telah dibahas di atas, dan tentunya pinjaman.

Maka ketika kita membuka rekening di bank syariah, pastikan kepada petugasnya bahwa saldo tabungan kita tidak akan ditambah atau dikurangi oleh pihak bank. Jika mereka tidak dapat menyanggupinya, karena berbagai alasan, maka jangan membuka rekening di bank tersebut.Saya bisa pastikan paling tidak ada 1 bank syariah yang memang menawarkan wadi’ah secara murni, tanpa tambahan dan pengurangan. Untuk menghindari fitnah, saya tidak akan menyebutkan namanya di sini, namun apabila kamu benar-benar ingin mengetahui, bisa kontak saya via email di galih@sikapiten.com

Asas Keterpaksaan

Setelah jelas keharamannya, bagaimana jika kita terpaksa membuka rekening di bank konvensional atau di bank syariah namun menggunakan akad yang tidak syar’i? Kasus paling umum adalah untuk penerimaan gaji dari kantor. Dalam hal ini, lembaga fatwa kerajaan Saudi Arabia memfatwakan bahwa keringanan dapat diberikan dengan syarat bahwa ketika gaji/upah sudah diterima, si penerima langsung mengeluarkannya dari rekening tabungan riba tersebut (Fatwa No. 16501). Penting untuk diingat bahwa uang yang kita setorkan atau tersimpan di rekening akan digunakan oleh bank konvensional untuk melakukan praktik riba, sehingga jangan sampai ada jeda waktu yang memberikan mereka kesempatan untuk menggunakan uang kita.

Bagaimana jika kita terlambat menarik pembayaran sehingga bank terlanjut memberikan bunga ke tabungan riba kita? Bunga tersebut merupakan riba dan haram untuk kita ambil, sekiranya ingin diambil wajib disedekahkan untuk tujuan sosial. Untuk itu, jalan terbaik adalah dengan memindahkan atau menariknya secepat mungkin dari tabungan riba tersebut, sehingga benar-benar terbebas dari riba.

Penutup

Menabung adalah kebiasaan yang baik, tapi kita harus memastikan bahwa cara kita menabung sesuai dengan syariat yang telah diberikan oleh Allah SWT dan Rasul Muhammad SAW. Riba adalah dosa besar yang harus kita hindari, dan salah satu cara termudah untuk menghindarinya adalah dengan tidak membuka rekening tabungan di bank konvensional. Jangan sampai kita menjadi orang yang turut memakmurkan praktik riba, dan menjadi musuh Allah dan Rasul-Nya. Naudzubillahi min dzalik.


Sumber

  1. Dr. Erwandi Tarmizi, Cetakan IV, hal 366, “Harta Haram: Muamalat Kontemporer”
Galih Muhammad

Galih Muhammad

Software developer di HarukaEdu yang mempelajari ilmu muamalah setelah menempuh kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Komentar:




Sampaikan saran, kritik, atau pertanyaan