Ketika Penjualan Pre-Order Menjadi Haram

Berdagang adalah salah satu cara mencari nafkah yang dapat membawa kesengsaraan di akhirat, seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW:

حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ، يَحْيَى بْنُ خَلَفٍ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُثْمَانَ بْنِ خُثَيْمٍ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ عُبَيْدِ بْنِ رِفَاعَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، أَنَّهُ خَرَجَ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم إِلَى الْمُصَلَّى فَرَأَى النَّاسَ يَتَبَايَعُونَ فَقَالَ ‏"‏ يَا مَعْشَرَ التُّجَّارِ ‏"‏ ‏.‏ فَاسْتَجَابُوا لِرَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَرَفَعُوا أَعْنَاقَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ إِلَيْهِ فَقَالَ ‏"‏ إِنَّ التُّجَّارَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فُجَّارًا إِلاَّ مَنِ اتَّقَى اللَّهَ وَبَرَّ وَصَدَقَ ‏"‏ ‏.‏ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ ‏.‏ وَيُقَالُ إِسْمَاعِيلُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ رِفَاعَةَ أَيْضًا

Diriwayatkan oleh Isma’il bin ‘Ubaid bin Rifa’ah. Dari ayahnya, dari kakeknya yang pergi bersama Rasulullah SAW ke mushola, dan beliau melihat orang-orang melakukan jual-beli lalu berkata: ‘Wahai para pedagang!’ lalu mereka membalas dan mengalihkan pandangan mereka kepada beliau, lalu beliau melanjutkan: ‘Sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan di hari pembalasan bersama dengan orang-orang yang keji, kecuali mereka yang bertakwa kepada Allah, banyak bersedekah dan berlaku jujur.

Jami’ at-Tirmidhi, hadist no 1210 Bab 14, hadist no 9

HASAN

Pada dasarnya ada beberapa hal-hal yang harus dipenuhi oleh seorang pedagang agar nafkahnya di sisi Allah tersebut halal dan membawa kebaikan baginya di akhirat. Selain berlaku jujur dan bersedekah, pedagang wajib memenuhi syarat sah dalam melakukan jual-beli di mata fiqih Islam. Untuk dapat melakukan ini, para pedagang wajib mengetahui ilmu muamalah, seperti yang ditegaskan oleh Umar bin Khattab RA:

“Tidak ada seorangpun yang boleh berjualan di pasar kami, kecuali mereka yang memiliki pemahaman atas agama”

Jami’ at-Tirmidhi, hadist nomor 487

Bab 3, hadist 35

HASAN

Pengenalan jual-beli dengan sistem Pre-Order

Salah satu bentuk usaha perdagangan yang sering melanggar hukum jual-beli sekarang ini adalah Pre-Order (PO) barang. Sering kita temui PO yang melibatkan bermacam-macam barang, dari pakaian, bahan makanan, hingga emas dan mata uang asing. Bentuk penjualan ini melibatkan fase pembayaran dan serah terima secara terpisah. Penjual akan meminta uang pembayaran, entah itu sebagai uang muka atau sebagai pembayaran lunas, dan barang akan diserahkan kepada pembeli di kemudian hari.

Kapiten - PO yang haram

Dengan kata lain, PO merupakan bentuk penjualan tidak tunai. Bentuk perdagangan ini tentunya halal, bukan? Bukankah fiqih muamalah membolehkan akad-akad penjualan tidak tunai? Ada akad Salam, yang merupakan pertukaran tidak tunai dimana uang dibayarkan secara lunas di muka namun barang diserahkan di kemudian hari. Di lain sisi, ada akad Istishna yang melibatkan pertukaran barang dan uang secara tidak tunai di kedua sisi. Maka umumnya PO menurut tinjauan fiqih dapat berupa akad Salam atau Istishna, tergantung dari sistem pembayarannya.

Masalahnya adalah, tidak semua bentuk PO adalah halal menurut tinjauan fiqih. Ada berbagai faktor yang membuat sebuah PO dianggap haram oleh syariah Islam.

Faktor I: Jenis barang yang diperjual-belikan

Mata uang (valas) tidak bisa menjadi objek jual-beli dengan sistem PO karena serah-terima pertukaran mata uang haruslah dilakukan secara tunai. Hal ini tidak mungkin dapat dicapai dengan sistem PO. Maka, PO yang melibatkan mata uang atau komoditas yang bersifat sebagai alat tukar seperti emas dan perak, adalah haram.

Faktor II: Status barang di tangan penjual

Dalam penjualan dengan sistem PO, si penjual belum memiliki barang yang dijual. Baik akad Istisna dan Salam juga memiliki situasi dimana si penjual sama sekali tidak memiliki barang ketika jual-beli dilakukan, namun dihalalkan di dalam syariah Islam selama memenuhi beberapa persyaratan yang ada.

Satu pertanyaan yang krusial untuk menentukan apakah sebuah PO dapat dianggap halal adalah apakah ada usaha pengolahan atau penambahan nilai yang dilakukan oleh si penjual, sehingga memerlukan jeda antara penyerahan barang. Inilah yang menjadi dasar dari akad Salam dan Istisna.

Salah satu contoh penerapan akad Salam adalah pembelian hasil panel sawah jauh hari sebelum panen. Fungsi akad Salam dalam kasus ini adalah sebagai modal untuk si petani membeli bibit serta modal kerja untuk bertani. Di antara jeda antara penyerahan uang dan barang (hasil panen), terdapat usaha yang dikerahkan oleh petani untuk mengubah bibit menjadi hasil tani. Setelah panen, si petani menyerahkan hasil tani yang telah disetujui untuk dibeli di dalam akad Salam tersebut.

Istisna, di lain sisi, adalah akad pemesanan untuk memproduksi suatu barang dengan spesifikasi khusus. Dimana Salam tidak mempersoalkan spesifikasi yang terperinci, Istisna mewajibkan si penjual dan pembeli menetapkan spesifikasi yang jelas dan si penjual menyerahkan barang yang sesuai dengan spesifikasi setelah produksi selesai.

Pada prakteknya, banyak penjualan dengan sistem PO sekarang ini yang tidak memenuhi syarat - syarat akad Salam maupun Istisna. Si penjual menjual barang dengan sistem PO karena tidak mempunyai modal atau tidak mau menanggung risiko rugi sama sekali. Dengan menggunakan sistem PO, sebelum membeli barang si penjual dapat menerima pembayaran dari pembeli, dan setelah itu baru melakukan pembelian barang dari penjual lain/supplier/produsen dengan menggunakan uang pembayaran dari pembeli. Konsekuensi dari kenyataan ini adalah PO tersebut menjadi tidak halal, karena telah melanggar syarat sah jual-beli yang disabdakan oleh Rasulullah SAW:

“Jangan engkau jual barang yang bukan milikmu”. Sunan Ibnu Majah Vol. 3, Book 12, Hadith 2187 (English Trans.) Klik di sini untuk lihat referensi

Kesimpulan

Jangan menjadi pedagang yang pengecut, takut terhadap kerugian, hingga akhirnya melakukan perdagangan yang melanggar syariat Islam. Keuntungan, menurut Islam, hanya boleh diperoleh karena dua faktor: 1) usaha/jerih payah yang dikerahkan, dan 2) risiko bisnis yang ditanggung. Membuka perdagangan PO yang tidak melibatkan produksi barang sama sekali, menghilangkan dua faktor tersebut sehingga keuntungan yang didapat menjadi haram.

Bagi kamu yang berdagang dengan sistem PO yang salah karena alasan “tidak punya modal”, sebaiknya gunakan akad Wakalah dan penuhi syarat-syaratnya agar rezeki yang kamu dapatkan dari perniagaanmu adalah halal dan membawa berkah.

Dan untuk kamu yang melakukan praktik PO yang salah karena tidak mau menanggung risiko dalam berdagang, sebaiknya beralih profesi menjadi pegawai.

Galih Muhammad

Galih Muhammad

Software developer di HarukaEdu yang mempelajari ilmu muamalah setelah menempuh kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Komentar:



SA'DIAH 18-10-2018

Assalamualaikum wr.wb saya mau bertanya,saya berjualan online dengan cara sebagai berikut 1.saya pajang foto barang2 yg saya jual di WA/instagran dengan sistem PO 2.ketika ada yg tertarik maka saya akan pesankan di shopee dan saya transfer uang saya ke rekening si penjual di shopee dengan nama dan alamat saya 3.setelah beberapa hari,barang pun telah sampai di tangan saya 4.karna saya masih sekolah jadi biasa nya si pemesan tersebut adalah teman2 sekolah saya,jadi saat barang datang saya akan menyerahkan barang pesanan tersebut kepada teman2 saya di sekolah,lalu mereka baru membayar nya. Pertanyaannya: 1.Apakah ini diperbolehkan 2.jika ternyata tidak diperbolehkan,maka apa yg harus saya lakukan,karena selama ini saya berjualan online dengan cara seperti tersebut…



SA'DIAH 18-10-2018

Assalamualaikum wr.wb saya mau bertanya,saya berjualan online dengan cara sebagai berikut 1.saya pajang foto barang2 yg saya jual di WA/instagran dengan sistem PO 2.ketika ada yg tertarik maka saya akan pesankan di shopee dan saya transfer uang saya ke rekening si penjual di shopee dengan nama dan alamat saya 3.setelah beberapa hari,barang pun telah sampai di tangan saya 4.karna saya masih sekolah jadi biasa nya si pemesan tersebut adalah teman2 sekolah saya,jadi saat barang datang saya akan menyerahkan barang pesanan tersebut kepada teman2 saya di sekolah,lalu mereka baru membayar nya. Pertanyaannya: 1.Apakah ini diperbolehkan 2.jika ternyata tidak diperbolehkan,maka apa yg harus saya lakukan,karena selama ini saya berjualan online dengan cara seperti tersebut…




Sampaikan saran, kritik, atau pertanyaan