Mengapa Asuransi Konvensional Diharamkan di Dalam Islam?

Mari kita memulai pembahasan tentang asuransi dengan menyatakan 1 hal dengan tegas bahwa asuransi hukumnya adalah haram menurut Islam. Kita akan mengupas alasannya secara jelas.

Memahami konsep asuransi

Asuransi adalah kontrak yang melindungi seseorang atau badan dari kerugian finansial atas suatu risiko. Dengan adanya kontrak tersebut, disebut dengan polis, antara seseorang atau badan yang menjadi tertanggung dan perusahaan asuransi sebagai penanggung, maka apabila risiko yang telah disepakati dalam kontrak terjadi, maka perusahaan asuransi akan memberikan sejumlah uang untuk menalangi kerugian yang dialami oleh tertanggung.

Contoh kasus: Kamu telah berkeluarga dan memiliki anak dan khawatir akan masa depan keluargamu apabila kamu tiba-tiba meninggal. Maka kamu pun membeli asuransi jiwa dari perusahaan asuransi dan membayar iuran premi secara berkala. Besaran premi yang kamu bayarkan tergantung dari seberapa besar nilai polis asuransi yang kamu beli dan seberapa banyak risiko yang dapat menyebabkan kamu meninggal (kesehatan, jenis pekerjaan, dsb).

Kamu wajib membayar premi sampai kamu meninggal atau tidak ingin lagi mempunyai asuransi tersebut. Jika kamu meninggal dan masih memiliki asuransi yang aktif, maka keluargamu akan mendapatkan pembayaran dari perusahaan asuransi senilai polis asuransi yang telah kamu beli.

Kedengarannya asuransi sangat bermanfaat bagi manusia, lalu kenapa diharamkan? Perlu kita ingat, ketika berurusan dengan muamalah (pemenuhan kebutuhan manusia sehari-hari), dasarnya semua aktifitas dibolehkan, kecuali ada dalil dari Al-Qur’an, Hadist, dan Ijma ulama yang melarang. Dalam kasus ini, ada banyak aspek dari asuransi yang mengandung hal yang dilarang oleh syariat Islam, terutama gharar dan riba.

Unsur gharar dalam asuransi

Gharar (ketidakpastian) dalam transaksi komersial telah dilarang oleh Rasulullah SAW dalam hadist shahih yang berbunyi:

أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ، قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو الزِّنَادِ، عَنِ الأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ .

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW melarang jual beli gharar” (HR. Muslim)

Sunan an-Nasa’i Vol. 5, Book 44, Hadith 4522 (English version)

Untuk memahami larangan ini, mari kita meninjau sedikit kasus-kasus jual-beli, dari aspek gharar.

  1. Ketika kita membeli 1 kg buah jeruk, maka kita membayar jeruk yang kita beli tersebut dengan harga per kilonya, misalkan 20 ribu rupiah. Dari transaksi ini pertukaran manfaat yang terjadi sangat jelas, yaitu si penjual buah mendapatkan 20 ribu rupiah dan kamu sebagai pembeli mendapatkan 1 kg jeruk.

  2. Di kasus lain, kita berniat membeli 1 kg buah jeruk, namun kita mendapati bahwa si penjual telah membungkus jeruk-jeruk ke dalam kemasan-kemasan yang tiap kemasannya, menurut si penjual, berisi 1 kg jeruk. Si penjual tidak membawa timbangan untuk kamu memeriksa berat tiap bungkusan, dan juga tidak mengizinkan kamu untuk menimbangnya sendiri. Karena terpaksa, kamu pun tetap membeli jeruk tersebut. Dari transaksi ini, manfaat yang didapatkan oleh si penjual adalah pasti, yaitu 20 ribu rupiah, tapi kamu sebagai pembeli tidak pasti mendapatkan buah-buah jeruk senilai 20 ribu rupiah. Ada kemungkinan bahwa jeruk-jeruk yang kamu beli tidak seberat 1 kg, sudah kadaluwarsa, atau lebih buruk lagi, bukan merupakan jeruk.

Dari 2 kasus di atas, kasus no. 2 adalah contoh dari jual-beli yang dilarang dalam Islam karena terdapat gharar di dalamnya.

Nah di dalam transaksi asuransi, terdapat gharar yang sangat besar mengenai pertukaran manfaat yang terjadi. Kamu tidak tahu berapa total yang harus kamu bayarkan sebagai premi untuk mendapatkan manfaat ganti rugi. Kamu bisa saja membayar premi terus menerus selama 10 tahun tetapi tidak mendapatkan ganti rugi karena risiko yang ditanggung tidak terjadi selama 10 tahun tersebut. Di lain sisi, kamu bisa saja menerima ganti rugi senilai 100 juta padahal kamu baru membayar premi sebesar 20 juta karena risiko yang ditanggung telah terjadi. Aspek ini menyebabkan asuransi konvensional juga memiliki unsur perjudian (qimar) sehingga diharamkan.

Unsur riba dalam asuransi

Polis asuransi esensinya adalah pertukaran antara uang dengan uang (sharf), dimana kamu sebagai tertanggung (pembeli asuransi) membayar premi dan kemudian menerima pembayaran ganti rugi ketika risiko yang ditanggung oleh asuransi terjadi. Dua peraturan utama dari akad sharf adalah: 1) serah terima pertukaran harus tunai dan terjadi di saat yang bersamaan , dan 2) apabila jenisnya sama (rupiah dengan rupiah), maka nominalnya pun harus sama (20 ribu dengan 20 ribu). Akad asuransi konvensional sama sekali tidak akan pernah bisa memenuhi dua syarat kunci akad sharf, sehingga sangat jelas ini merupakan praktik riba fadhl dan nasi’ah.

Selain dari sisi akad, perlu diketahui bahwa uang yang dibayarkan sebagai premi oleh para pembeli asuransi akan digunakan oleh perusahaan asuransi dalam investasi yang sarat riba untuk mendapatkan keuntungan. Jadi, dengan membeli asuransi, kamu secara langsung turut menyuburkan praktik riba.

Jauhi asuransi

Semoga di akhir pembahasan ini kamu telah memahami dalil dan alasan di balik mengapa asuransi konvensional diharamkan dalam Islam. Untuk kasus-kasus dimana terdapat keterpaksaan, para ulama fiqih menyetujui beberapa keringanan, yang akan kita bahas di kemudian hari.


Sumber

  1. Dr. Erwandi Tarmizi, Cetakan IV, hal 246, “Harta Haram: Muamalat Kontemporer”
Galih Muhammad

Galih Muhammad

Software developer di HarukaEdu yang mempelajari ilmu muamalah setelah menempuh kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Komentar:




Sampaikan saran, kritik, atau pertanyaan