Syarat Sah Jual-Beli Menurut Islam

Dalam bahasa Arab, jual-beli disebut sebagai “Ba’i” yang mempunyai arti menerima sesuatu dan memberikan sesuatu. Hukum dasarnya adalah mubah. Kita seringkali mendengar ‘murabahah’, nah murabahah ini merupakan salah satu jenis ba’i berdasarkan waktu serah terima.

Kemudian ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar suatu transaksi jual-beli sah menurut Islam:

  1. Saling rela antara kedua belah pihak. Bai’ (jual-beli) haruslah atas dasar kerelaan (suka sama-suka). HR. Ibnu Majah. Jika seseorang dipaksa menjual barang miliknya atau membeli barang, dengan cara yang tidak dibenarkan hukum maka penjualan yang dia lakukan batal dan tidak terjadi peralihan kepemilikan. Lain halnya untuk paksaan yang ddasari hukum, maka akad yang dilakukan sah.

    Disebutkan dalam QS An-Nisa: 29 Klik di sini untuk lihat referensi

  2. Pelaku akad berakal sehat & baligh Akad yang dilakukan oleh orang di bawah umur, orang gila atau idiot, tidak sah dilakukan tanpa izin walinya. Untuk akad-akad yang imateril atau bernilai kecil, anak kecil diperbolehkan untuk melakukannya (contoh: membeli makanan).

    Disebutkan dalam QS An-Nisa: 5-6 Klik di sini untuk lihat referensi

  3. Objek transaksi telah dimiliki oleh penjual Apabila seseorang menjual barang yang bukan miliknya (tanpa seizin pemiliknya) atau belum dimilikinya, maka akad dianggap tidak sah. Wakil, wali anak kecil, dan orang gila serta pengurus anak yatim derajatnya sama dengan pemilik barang di mata Islam.

    “Jangan engkau jual barang yang bukan milikmu”. Sunan Ibnu Majah Vol. 3, Book 12, Hadith 2187 (English Trans.) Klik di sini untuk lihat referensi

  4. Objek transaksi haruslah halal

    Sesungguhnya Allah bila mengharamkan suatu barang juga mengharamkan nilai jual barang tersebut. Sunan Abi Dawud 3488 | Book 23, Hadith 3481 (English Trans.) Klik di sini untuk lihat referensi

  5. Objek transaksi harus dapat diserahterimakan Tidak sah menjual barang-barang yang tidak bisa dilakukan serah terima atasnya, seperti mobil hilang, kapal tenggelam, dan burung di angkasa karena tingginya unsur gharar yang terlibat.

    Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi melarang jual beli gharar Jami` at-Tirmidhi 1230 | Vol. 3, Book 12, Hadith 1230 (English Trans.) Klik di sini untuk lihat referensi

  6. Objek transaksi harus diketahui dengan jelas oleh kedua belah pihak Hadits dalam syarat sah no.5 juga berlaku untuk syarat ini, dimana jual-beli sebisa mungkin dilakukan tanpa unsur gharar. Cara untuk memenuhi syarat no. 6 ini adalah dengan:
    • Melihat barang secara langsung atau beberapa waktu sebelumnya yang tidak memberi celah untuk barang tersebut berubah keadaannya.
    • Menyebutkan spesifikasi barang secara detail dan jelas, hingga seakan-akan orang yang mendengan spesifikasi tersebut melihat barang tersebut.
  7. Harga harus jelas disebutkan Ketika jual-beli, harga harus jelas diketahui dan disetujui kedua bekah pihak sebelum melakukan akad. Ini juga yang dijelaskan oleh dalil hadist di syarat no. 5.
Galih Muhammad

Galih Muhammad

Software developer di HarukaEdu yang mempelajari ilmu muamalah setelah menempuh kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Komentar:




Sampaikan saran, kritik, atau pertanyaan